Selasa, Agustus 04, 2009

KOPI, SEBUAH BUDAYA GLOBAL



“Coffee should be black as hell,strong as death, and sweet as love”
Pepatah Turki

Pepatah Turki diatas seolah-olah menyiratkan bahwa tidak ada komoditi makanan di dunia ini yang dapat menimbulkan ikatan emosional yang demikian kuat bagi para penikmatnya, selain kopi. Meskipun dalam hal ini, sebagian berargumentasi bahwa coklatlah yang menempati urutan pertama.
Secangkir kopi yang kita nikmati, sebetulnya telah melewati banyak tahap, seperti pemilihan bibit, penanaman, panen,penyimpanan biji mentah,memanggang atau menyangrai kopi (roasting),cara menyeduh, hingga menghidangkan.
Tahap roasting dilakukan untuk mengeluarkan rasa dan aroma kopi.Di masa lalu digunakan wajan biasa untuk menyangrai kopi, namun saat ini sudah diciptakan mesin khusus yang dilengkapi dengan pengatur waktu untuk mendapatkan hasil roasting yang diinginkan,untuk menjaga konsistensi kualitas, tentunya dibutuhkan keahlian khusus untuk melakukan tahap ini.
Proses roasting sangat berpengaruh terhadap flavour yang dihasilkan.Adapun tingkatan roasting yang dikenal diantaranya Light roast atau disebut juga cinnamon roast dengan karakteristik ringan,sedikit asam,dan tajam;medium roast atau dikenal juga sebagai American roast, karakeristiknya berwarna medium brown, full body dengan flavour yang balanced dan aroma Yyang kompleks;Dark roast atau Italian atau Viennese roast merupakan tingkatan roasting favorit dari banyak produsen dan penggemar specialty coffee, dimana karakteristiknya berwarna chesnut brown dan dikenal seimbang antara sweetness dan sharpness-nya;terakhir adalah Darkest roast atau Espresso atau French roast, dengan karakteristik permukaan biji kopi berminyak (oily surface),flavor tajam dan smoky, namun rasa tajam inilah yang menjadi favorit espresso lovers.Sebagian produsen kopi skala besar (coffee roaster) mencantumkan tingkatan roasting ini pada kemasan produknya.


Selain proses roasting dan grinding (penggilingan), kelezatan secangkir kopi juga dipengaruhi cara menyeduhnya (brewing). Beraneka cara dan peralatan menyeduh kopi dilatarbelakangi budaya terutama di beberapa negara yang banyak penikmat kopinya, baik yang sangat tradisional seperti kopi tubruk yang diseduh dengan menuangkan air panas, Turkish coffee atau yang juga dikenal dengan istilah ibrik, dimana kopi giling direbus sebentar dengan menggunakan sejenis poci yang di design khusus .
Sementara di daratan Eropa kita mengenal peralatan menyeduh kopi yang disebut bialetti yang prinsipnya membuat secangkir kopi melalui bubuk kopi yang diuapi oleh air panas. Selanjutnya ada juga french press dimana bubuk kopi dimasukkan ke dalam gelas yang dilengkapi dengan alat penekan yang berlubang kecil kecil, tuangkan air panas, lalu tekan sehingga ampas kopi terkumpul di dasar gelas tersebut, dan didapatlah minuman kopi diatasnya.

Saat ini metode termodern untuk menikmati kopi adalah dengan menggunkan espresso machine,yang prinsipnya adalah berupa mesin ekstraksi kopi yang diberi tekanan air (water pressure) pada temperatur tertentu hingga menghasilkan espresso dan black coffee murni dengan taste istimewa, tanpa ampas. Dibandingkan dengan metode terdahulu, espresso machine sudah dilengkapi dengan alat pembuat busa susu (milk foam), sehingga minuman kopi yang dihasilkan tidak terbatas hanya regular coffee (black coffee) saja melainkan juga espresso, cappuccino, latte,machiato, moccachino dan lain-lain kreasi minuman berbasis kopi.
Jika sebelumnya hanya di cafe atau coffee shop favorit kita bisa mendapatkan aneka jenis minuman berbasis kopi dengan menggunakan espresso machine, saat in i espresso machine pun ditampilkan dengan design dan spesifikasi yang telah disesuaikan untuk kebutuhan rumah ataupun kantor, tanpa mengesampingkan kualitas minuman kopi yang dihasilkan.
Uji kualitas kopi atau cupping, selalu dilakukan produsen kopi untuk menjaga kualitas. Cupping ini pun bisa juga menjadi acuan para pecinta kopi dalam menentukan kenikmatan dan sensai dari secangkir kopi
Umumnya proses cupping diawali dengan diawali dengan: Fragrance,yaitu mencium bau kopi sebelum diseduh,Aroma mencium bau kopi yang sudah diseduh,Acidity yang lebih mengarah pada sensasi keasaman yang kita rasakan saat meminum tepatnya menghirup atau “slurp” kopi tersebut di lidah dan langit2 mulut,umumnya diparameterkan dengan very flat, very soft,slightly sharp, very sharp and very bright.Selanjutnya adalh Flavor, yang sangat tergantung pada penilaian masing-masing orang, juga dirasakan saat kita “slurp”kopi tersebut, diparameterkan dengan very poor hingga outstanding, berikutnya adalah body yaitu yang dirasakan mulut saat “slurped”imajinasikan seperti saat kita meminum air biasa dengan susu, berdasarkan inilah muncul istilah medium body ataupun full body, dimasing-masing blend biji kopi, penilaian terakhir adalah aftertaste atau rasa yang ditinggalkan , yang kita rasakan setelah meinum kopi tersebut .
Terjawab sudah makna dari pepatah Turki di atas, dimana sejak awal ditemukannya tanaman kopi oleh penggembala kambing di Etiopia pada abad ke 9 hingga kini menempati posisi nomor 2 komoditas terbesar dunia setelah minyak bumi, kopi adalah komoditas unik yang tidak pernah lekang untuk di explore........ (oleh Lasmezi Zamora untuk majalah Luar Biasa edisi July 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar